Friday, February 7, 2014

Home base or Advancement?



What is reason of you to keep your career being upgrade? Yup! Many people said : salary or advancement. But others said : good corporation. So, what is your choice in between? Nothing. I choose home base. Ha ha

Home base is identified as a work office where is closed to our home. I said it is so important to charge energy as a modal of your jobs.


But, home base is not fully criteria to grow up our career. It is depend on you. Home base can be an enemy if you could not manage yourself. It is hard to say, but it is the real. Some people is precisely being up down after they get home base. There are no productivity, instead cooling down.

I am thankfull for more than ten years I have been here, getting work office near home base. I can do many activities after working hour on 5 pm with my kiddos, also spending more time to holiday in weekend. This is expensive, not every people can do.


What about you?

Monday, February 3, 2014

A Long Hiatus Note



Tulisan ini dibuat secara sungguh-sungguh, aktual, dan suka rela demi mengisi waktu luang di sela-sela jam kerja yang super padat. Tidak ada disclaimer apa pun terhadap tulisan ini. Penulis hanya ingin menyampaikan fakta, pemikiran, ide, dan impian untuk disajikan kepada para Pembaca tanpa ada tendensi dan kepentingan apa pun. Isi dari tulisan ini tidak mencerminkan pribadi penulis atau pun korporasi di mana penulis mencari nafkah. Demikian. Selamat menikmati ya!





Thursday, 31 October 2013


Hari terakhir di bulan Oktober 2013. Berarti masih tersisa dua bulan lagi di tahun 2013. Bekerja di korporasi ini pada masa seperti ini layaknya sopir kejar setoran. Semua effort dilakoni demi mengejar target agar tercapai. Tetapi, parahnya raihan prosentase sampai hari ini baru mencapai angka 67%. Dan, sampai akhir tahun diprediksi hanya akan mencapai angka 87%.


Saya sempat berfikir, sebelum kantor ini menerapkan good corporate governance, tidak ada yang peduli dengan masalah penerimaan (sales). Karena laporan penerimaan bisa dipermak sedemikian rupa. Hasilnya pun laporan asal bapak senang. Belum ada sistem yang dapat melihat langsung kinerja cabang mana yang paling bagus sampai yang paling jelek.


Lain dulu lain sekarang. Kinerja suatu kantor sangat tergantung dengan laporan penerimaan. Dan, laporan penerimaan tidak bisa dimanipulasi lagi. Bagi kantor yang rapor penerimaannya masih merah alias waspada, harus siap menerima pil pahit : kepala kantornya dimutasi jauh, dan insentif kantor tidak menerima fully 100%. Duh!




Friday, November 01, 2013


Ini adalah gambar yang saya ambil tadi pagi sekitar pukul 6 pagi di halaman sebuah bank plat merah di dekat rumah. Terlihat antrian mengular mulai dari pintu masuk bank yang memang belum dibuka dan berakhir di trotoar jalanan. Antrian ini akan terus bertambah sampai bank tersebut buka pada pukul 8 nanti.

Siapa mereka? Mereka adalah para pensiunan yang akan mengambil uang pensiun tiap awal bulan. Terlihat dalam gambar, siapa pemilik antrian paling depan? Dia adalah seorang bapak renta yang sudah tidak mampu berdiri dan duduk di sebuah kursi berwarna oranye. Pukul berapa kira-kira si bapak renta ini datang demi mendapatkan antrian paling depan? Berapa lama mereka menunggu? Tentu saja, menunggu adalah pekerjaan yang melelahkan meskipun menunggu uang pensiun.

Saya berharap, di masa tua saya nanti, saya tidak harus rela antri demi rupiah pensiun yang memang sangat berarti seperti halnya mereka. Saya ingin memiliki tabungan yang cukup sampai kelak anak-anakku mandiri dan sejahtera sehingga saya tidak perlu antri tiap awal bulan di subuh kala…


#belum sempat data foto diambil, ponsel saya rusak dan terpaksa dijual.






Mon, 11 November 2013


Akhir pekan lalu, saya menghabiskan waktu di sebuah mall baru di daerah Bekasi. Mall yang bertajuk Grand Metropolitan tersebut berlokasi cukup strategis, tepatnya sekitar 500 meter dari pintu tol Bekasi Barat. Mall yang dikembangkan oleh Metropolitan Grup ini rupanya ingin mengulang kesuksesan dua proyek sebelumnya, yakni Metropolitan Mall 1 dan 2 yang okupansinya telah terisi penuh oleh para tenant. Lokasinya pun tidak jauh dari kedua proyek sebelumnya, hanya 100 meter sesudah melewati pemukiman elite Taman Vila Baru. Mall Grand Metropolitan dapat pula dijangkau melalui Jalan Raya Kalimalang, belok kanan tepat di putaran Rumah Sakit Awal Bros, apabila dijangkau dari arah Jakarta.

Saya takjub dengan Mall Grand Metropolitan bukan karena bangunannya yang megah atau tenant-nya yang memang dikhususkan untuk pembeli berduit, melainkan masjidnya yang bagus dan bersih. Rupanya pengembang mall ini ingin memanjakan pengunjung untuk berlama-lama belanja di mall tanpa harus meninggalkan kewajiban shalat.

Tidak seperti mall lain yang biasanya menempatkan masjid di posisi belakang dan kadang nyempil di antara toilet yang pengap, lokasi masjid di Grand Metropolitan sangat strategis, tepatnya di Lower Ground, tepat di pintu masuk apabila melalui Parkir LG1. Masjidnya bersih dan luas. Seluruh ruangan menggunakan mesin pendingin udara yang sangat dingin. Lantainya keramik putih dan bersih. Ruang wudhunya cukup bersih dilengkapi dengan kran air yang memadai. Tersedia pula loker tempat penitipan barang berharga dilengkapi ruang tunggu dengan kursi berbentuk bintang dengan bentuk yang sangat modern.

Saya bersyukur, banyak pengembang membangun masjid di pusat perbelanjaan atau pun fasilitas publik sehingga kita tidak kesulitan apabila hendak menunaikan ibadah shalat. Tetapi yang harus diperhatikan adalah, hendaknya masjid yang dibangun tetap dijadikan sarana syiar dan pusat interaksi antara umat dan lingkungan sekitar. Bukan sebagai kelengkapan mall belaka.






Tuesday, August 20, 2013

The Ied Mubarak - 1434 Hijriy


Ini minggu pertama masuk kerja setelah libur panjang Lebaran 2013. Tahun ini, saya menghabiskan Libur Lebaran di Jakarta saja, berkumpul dengan keluarga istri. Jujur sih, ada perasaan sedih juga, apalagi pas malam Takbiran tiba, terkenang seribu satu memori masa kecil menghabiskan Malam Takbiran di kampung nun jauh di sana.

Sedikit muhasabah untuk Ramdhan tahun ini, Alhamdulillah saya dapat mengkhatamkan 30 juz bacaan Al Qur’an – tradisi baik yang mudah2an dapat menjadi bekal di hari nanti. Namun sayangnya, target ibadah shalat sunnah Tahajud kurang banget. Mungkin karena faktor M (malas) ya…? Mudah-mudahan tahun depan Allah masih mempertemukan kami di bulan mulia itu….

Oya, setelah Lebaran, Allah mengujiku dengan beberapa sakit. Sakit yang boleh dibilang ringan, tapi cukup mengganggu aktivitas. Bayangkan, pergelangan tangan saya “cuma” kesleo gara-gara salah tidur. Tapi walaupun “cuma” sakit kesleo di pergelangan tangan, itu cukup mengganggu aktivitas mandi (ambil air pakai gayung aja susaah dan sakiiit minta ampun!), aktivitas sholat (pada saat pergelangan tangan menyangga badan untuk bersujud, duhhhh sakitnya…), naik motor (tangan kan organ vital untuk menggerakkan stang gas)… dan aktivitas lain. Walhasil, saya kadang memaksa diri untuk melakukan aktivitas normal walaupun sambil meringis kesakitan.

Saya berfikiran, dengan sakit di bagian pergelangan tangan saja, aktivitas sehari-hari saja sudah terganggu. Bagaimana kalau sakit luka karena kecelakaan, tembakan atau pun yang lain. Na’udzubillah min dzalik. Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari bencana dan sakit yang mendera.

Naaah, sakit yang kedua adalah pada kedua jempol kaki saya timbul bisul yang awalnya dari luka biasa. Mungkin karena saya tidak terbiasa menggunakan sepatu untuk aktivitas outdoor. Bisul itu cukup mengganggu mobilitas saya yang memang gemar berjalan kaki. Pakai celana & sepatu saja jadi aktivitas yang merepotkan. Pegel, cenat-cenut dan lain-lain campur aduk jadi satu…

Saya berfikir bahwa sakit yang menimpa kita adalah teguran untuk selalu hati-hati. Mungkin saya kurang hati-hati menjaga kebersihan kaki sehingga kaki saya sampai kena bisul. Atau mungkin saya harus berdoa sebelum tidur agar saya tidak salah posisi tidur. Atau mungkin-mungkin yang lain…

Ya gak?

PT KAI - Going To The Real Good Corporate Governance

Sorry, I post my blog in Bahasa...

Awal Juli lalu, saya kembali pulang kampung halaman setelah hampir 4 bulan tak pulang. Pulang kampung kali ini terasa lebih nyaman. Pasalnya, layanan moda transportasi berupa kereta api sekarang jauh lebih baik dibanding beberapa tahun sebelumnya. Saya pribadi sangat merasakan perbedaan layanan PT KAI. Beberapa hal yang perlu dicatat dari keberhasilan manajemen PT KAI di bawah komando Ignasius Jonan adalah :

1.     Penertiban kios permanen / non permanen dibongkar menjadi fasilitas publik (ruang tunggu, taman, tempat parkir, dll). Walaupun gagasan ini ditentang banyak pihak, saya sependapat bahwa memang seharusnya fasilitas publik harus dikembalikan fungsinya untuk publik. Kios-kios ilegal yang ada di stasiun, umumnya menjadi kantong-kantong kolusi oknum PT KAI dan pedagang yang menyewa kios tersebut. Padahal, tanah tersebut adalah milik negara yang harus dikembalikan fungsinya untuk publik. Seandainya peruntukannya untuk disewakan, harus ada perjanjian yang jelas dan pendapatannya masuk sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP)
2.     Stasiun kini berubah tempat yang bersih dan nyaman, bukan tempat yang angker dan menjadi sarang preman. Sepanjang pengamatan saya, nyaris tak ada pengamen, tunawisma, pedagang asongan, malah sebaliknya banyak dijumpai petugas keamanan, polisis khusus kereta api (polsuska) yang siap membantu kita apabila kita memerlukan informasi.
3.     Nama penumpang harus sesuai dengan yang tertera dalam kartu identitas. Ini penting untuk mengurangi kesemrawutan calo dan risiko identifikasi kecelakaan lalu lintas. Penumpang diperkenankan masuk ke peron setengah jam sebelum kereta berangkat. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penumpukan penumpang di peron.
4.     Tidak ada penumpang yang berdiri. Semua penumpang mendapatkan tempat duduk. PT KAI tidak diperkenankan menjual tiket berdiri. Beda banget waktu zaman dulu, penumpang berdesak-desakan di koridor gerbong kereta
5.     Semua kereta jarak jauh, baik kelas ekonomi maupun bisnis, menggunakan fasilitas pendingin udara (AC). Walaupun penumpang harus membayar selisih harga lebih mahal, tetapi tidak masalah kalau memang tujuannya untuk kenyamanan bersama.
6.     Tidak ada pedagang ataupun pengemis masuk ke dalam gerbong kereta sekalipun kereta tersebut sedang transit di stasiun pemberhentian. Polsuska siap mengusir pedagang yang kedapatan masuk ke dalam gerbong kereta.
7.     Toilet di semua stasiun gratis, bersih pula. Di depan pintu tertulis besar-besar tulisan “GRATIS”. Si penjaga toilet juga rajin bersih-bersih setelah lantai kotor diinjak-injak penumpang yang selesai menggunakan toilet. Hmmm.. malah sempat berfikir untuk memberikan uang tip kepada si penjaga toilet karena begitu rajin dan ikhlas bekerja di sana. Untuk toilet di dalam kereta, boleh dibilang bersih, ada air kran yang mengalir, tisu dan sabun cuci tangan di dalamnya.

Ya, itu dia sekelumit ceritaku mengenai layanan PT KAI yang sedang mengalami perubahan. Perubahan menuju ke yang lebih baik tentunya! PT KAI layak dinilai sebagai salah satu public corporate yang sedang giat-giatnya membangun budaya perusahaan yang lebih baik!

Menurutmu?